Puisi

Aku yang kembali menjadi aku

Pernah ada masa
ketika aku mengira,
agar disukai banyak orang,
aku harus menjadi seseorang
yang bukan diriku.

Maka perlahan,
aku mengubah cara bicara,
menyembunyikan tawa,
menahan pendapat,
dan belajar mengecilkan diri
hanya agar keberadaanku
tidak lagi dianggap mengganggu.

Aku pikir,
mungkin kalau aku berubah,
mereka akan menerimaku.

Ternyata aku salah.

Karena semakin lama
aku mencoba menjadi versi
yang mereka mau,
semakin jauh pula
aku mengenal diriku sendiri.

Aku masih tersenyum,
masih tertawa,
masih berjalan bersama mereka—
tetapi rasanya seperti sedang memainkan
peran seseorang
yang bahkan tidak kukenal.

Sampai akhirnya aku sadar,
mungkin selama ini
aku terlalu sibuk mencari tempat
di hati orang lain,
sampai lupa
bahwa aku juga membutuhkan tempat
di dalam diriku sendiri.

Aku tidak seharusnya menghabiskan hidup
untuk meyakinkan orang lain
bahwa aku pantas disukai.

Aku tidak harus menjadi lebih pendiam
hanya karena tawaku dianggap terlalu ramai.

Tidak harus menyembunyikan diriku
hanya karena ada yang tidak nyaman
melihatku menjadi diriku sendiri.

Jadi kali ini,
aku memilih pulang.

Pulang kepada diriku
yang dulu pernah kutinggalkan
demi sebuah penerimaan.

Aku kembali tertawa
tanpa terlalu memikirkan
apakah tawaku mengganggu.

Kembali berbicara
tanpa takut setiap kata
akan membuat seseorang pergi.

Dan perlahan,
aku berhenti memaksa diri
untuk tinggal di tempat
yang membuatku terus bertanya,
“Apakah aku sudah cukup baik?”

Kali ini,
aku sedikit lebih bodoamat.

Bukan karena aku tidak peduli,
tetapi karena akhirnya aku mengerti—
tidak semua pendapat
harus menjadi beban di pundakku.

Tidak semua orang
harus menyukaiku.

Dan tidak semua tempat
harus menjadi tempatku pulang.

Aku pun mulai mencari
lingkungan yang baru.

Teman-teman
yang tidak membuatku harus berpura-pura,
yang tidak meminta aku mengecil
agar mereka merasa nyaman,
dan yang menerima kehadiranku
tanpa syarat untuk menjadi orang lain.

Namun sebelum aku pergi,
pernah ada yang berkata,

“Kalau kamu menjauh dari mereka,
nanti kamu punya teman siapa?”

Kalimat itu sempat membuatku ragu.

Aku takut kesepian.
Takut tidak punya siapa-siapa.
Takut kalau keputusan untuk pergi
justru membuatku kehilangan semuanya.

Tapi ternyata,
yang lebih menakutkan
bukan berjalan sendirian.

Yang lebih menakutkan
adalah terus berjalan bersama banyak orang
namun perlahan kehilangan
siapa diriku sendiri.

Jadi aku memilih pergi.

Bukan karena aku membenci mereka,
bukan juga karena aku ingin membuktikan
siapa yang benar dan siapa yang salah.

Aku hanya ingin memberi diriku
kesempatan untuk bernapas
di tempat yang tidak memintaku
menjadi orang lain.

Dan lihatlah aku sekarang.

Aku memang pernah menarik diri,
tetapi aku tidak kehilangan diriku.

Justru sebaliknya—

aku menemukannya kembali.

Ternyata pergi
bukan selalu berarti kehilangan.

Kadang,
pergi adalah cara paling berani
untuk memilih diri sendiri.

Dan ternyata,
menjadi diri sendiri
tidak selalu membutuhkan keberanian besar.

Kadang cukup dengan
berhenti meminta izin
kepada orang lain
untuk menjadi siapa diri kita.

Hari ini,
aku tidak lagi sibuk membuktikan
bahwa aku pantas menjadi bagian dari mereka.

Aku hanya ingin terus belajar
menjadi diriku sendiri
tanpa takut
tidak disukai siapa-siapa.

Karena pada akhirnya,
aku tidak membutuhkan
seluruh dunia untuk menyukaiku.

Aku hanya membutuhkan
satu tempat
yang tidak pernah seharusnya kutinggalkan—

diriku sendiri.

Dan kali ini,
aku tidak ingin pergi lagi.

Bukan dari dunia,
bukan dari siapa-siapa,

tetapi dari diriku sendiri.

Karena setelah sekian lama mencari
tempat untuk merasa diterima,

akhirnya aku mengerti—

rumah yang paling ingin kutemukan
ternyata adalah
aku yang kembali menjadi aku.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.