Fiksi Mini

PULANG KE RUMAH

Visual karya PULANG KE RUMAH

PULANG KE RUMAH
Maghrib itu, seperti biasa aku menyiapkan tempat ibadah untuk sholat maghrib berjamaah di rumah. “Bunda, udah siap? tolong panggil anak-anak untuk segera sholat maghrib berjamaah,” kata suamiku. “ Udah siap ayah, bunda panggil anak-anak dulu,” jawab aku.
Sholat maghrib berjamaah selesai. Akupun khusyu mengikuti dzikir dan doa dari suamiku, sampai akhirnya doapun selesai dipanjatkan, aku seraya melirik sedikit kearah kedua anakku yang terlihat sudah mengantuk. “Kak Ara…dek Ain salim ma ayah bunda dulu, rapikan mukena dan sarungnya yaaa, terus langsung ke kamar,” kata aku kepada kedua anakku. “Iya bunda,” jawab anak sulungku yang sudah berusia 7 tahun. Anak bungsuku yang usia 4 tahun masih bercengkerama dengan ayahnya dan terlihat saling bercanda, tanpa mempedulikan sarung yang belum dirapikan.
Setelah selesai sholat maghrib, akupun langsung menyiapkan makan malam. Setelah itu, aku pergi ke kamar untuk melihat kedua anakku dan ternyata benar mereka sudah tertidur. “Anak-anak tidur bun?” tanya suamiku. “Iya sudah yah, kita makan dulu saja,” jawab aku. Seperti biasa aku makan sepiring berdua, dengan usia pernikahan 8 tahun, kebiasaan itu masih kita lakukan. Aku sangat bersyukur, dan tak terasa porsi makan malam kita berdua habis.
“Bun, ayah langsung ke majlis yaa? Malam ini giliran mbah Noto sebagai tuan rumah, kalau bunda udah ngantuk, tidur duluan saja, tidak usah nunggu ayah,” jelas suamiku. “Iya yah, hati-hati di jalan, jangan lupa berkabar,” kata aku. “Siap bun, Assalamu’alaikum,” kata suamiku menenangkan. “Wa’alaikumussalam ayah, jangan ngebut-ngebut naik mobilnya,” jawab aku. Terlihat suamiku melambaikan tangannya.
Malam itu, suamiku berangkat ke majlis malam Rabu. Aku pun bersama kedua anakku melakukan aktivitas di dalam kamar. Anak sulungku terbangun, “Bunda, ayah kemana?” tanya anak sulungku. “Ayah ngaji dek ke tempat pakde,” jawab aku. Jawaban itu membuat percakapan kami berhenti, ini bukan karena kami tidak punya topik, akan tetapi seperti biasa gadget mengalahkan komunikasi kami berdua. Anak sulungku fokus bermain game, dan aku lihat live di e-commerce. Pukul 21.13 terdengar suara pintu depan terbuka, dan benar ternyata suamiku masuk ke dalam kamar, seraya sibuk mencari sesuatu. Aku pun langsung bertanya, “ayah udah pulang? kok tumben jam segini sudah pulang,” tanya aku agak mikir. Berharap ada jawaban dari suamiku, dan terlihat suamiku mengambil sebuah tasbih biru yang ada di rak kamar. Tanpa ada kata-kata, suamiku keluar dari kamar dan menutup pintu kembali.
Aku pun penasaran mengapa suamiku sudah pulang kerumah jam segini. Biasanya jam 12san malam lebih baru sampai rumah. Aku pun melangkahkan kakiku keluar dari kamar, dan mencari kemana suamiku tadi. Suamiku tidak ada dimana-mana, di dalam rumah maupun di luar rumah. Hatiku pun semakin berdebar kencang karena saat aku cek keluar rumah, mobil pun tidak ada. Tidak mungkin secepat itu suamiku pergi lagi dan tidak berpamitan juga. Akhirnya aku telepon suami, dan diangkatlah. “Assalamu’alaikum ayah, ayah kemana?” tanya aku langsung. “ Wa’alaikumusslm, laah bun kan ayah masih di mbah Noto, kenapa bun?” jawab suamiku. Dengan mata terbelalak dan tubuh yang tambah gemeteran, “ayah, tadi siapa yang pulang ke rumah?” tanya aku dan langsung kututup telfon dengan berlari kencang masuk ke kamar lagi.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.