Cerpen

SAJADAH TERAKHIR NORMA

SAJADAH TERAKHIR NORMA
Norma seorang remaja sholihah berusia tiga belas tahun. Sejak kecil, ia hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah kayu sederhana di pinggir kampung. Kedua orangtuanya sudah lama meninggal, ayahnya meninggal saat merantau di pulau seberang, usia Norma saat itu 1 tahun, dan ibunya menyusul karena sakit, Norma ditinggal ibunya saat usia 5 tahun, ibunya meninggalkan satu-satunya benda yang selalu menemani Norma yaitu sajadah biru bermotif bunga putih.
Sajadah itu sudah menjadi bagian dari hidup Norma. Setiap shalat, ia merasakan kehadiran ibunya yang seakan akan masih bersamanya menjalin kehidupan yang indah. Norma sangat mendambakan dan merindukan orangtuanya, terutama ibumya.
Saat hendak menunaikan shalat subuh, Norma tertegun. Sajadah biru yang selalu terlipat rapi di sudut kamar tiba-tiba lenyap. Norma mencari dengan seksama pada setiap sudut kamar, mencari di kolong tempat tidur, di lemari, di antara tumpukan baju, tapi sia-sia.
“Ke mana perginya?” bisiknya, nyaris tak terdengar. Suara itu hanya untuk dirinya sendiri dan untuk ibunya yang ia bayangkan sedang menatapnya dari jauh.
Hari berganti. Norma tetap shalat, memakai sajadah tua milik neneknya. Tapi setiap sujud, hatinya terasa jauh. Ada yang hilang. Ada yang kosong.
Setiap malam tiba, ia selalu berbisik dalam hati dengan rasa sedih, “Ibu… maafkan aku. Aku sudah menghilangkannya. Tolong jangan marah Ibu….”
Norma merasa gagal dalam menepati janji yang diucapkannya sendiri di makam ibunya dulu, Norma berjanji akan selalu merawat sajadah itu, apapun yang terjadi. Tapi nyatanya, Norma menghilangkannya.
Di sekolah, Norma jadi lebih pendiam. Ia sering termenung di tepi jendela, menatap langit sambil berharap sajadah birunya turun dari langit. Sepulang sekolah, ia kembali menelusuri rumah, membuka laci-laci, memeriksa setiap sudut ruangan kamarnya. Tapi hasilnya sama, tak ada sajadahnya, lenyap begitu saja.
Suatu malam, nenek mendekatinya. Mereka duduk berdua di atas dipan kayu. Norma menunduk, matanya sembab.
“Nak… kenapa kau begitu sedih?” tanya nenek pelan.
Norma menahan isak. “Nek… aku kehilangan sajadah Ibu. Aku… aku merasa berdosa. Aku janji menjaganya, tapi malah kehilangannya…”
Nenek mengelus kepala Norma, wajahnya penuh sayang. “Jangan terlalu menyalahkan dirimu, Nak. Ibu-mu pasti tahu… yang penting adalah hatimu.”
Norma menggeleng lemah. “Tapi… sajadah itu satu-satunya yang tersisa dari Ibu. Kalau itu hilang… apa lagi yang kupunya?”
Nenek terdiam lama. Ada sesuatu yang bergejolak di hatinya, tapi ia memilih memeluk Norma erat-erat.
“Tenangkan hatimu… jangan biarkan kehilangan ini akan membuatmu jauh dari Allah,” bisik nenek.
Norma mencoba meski hatinya belum bisa ikhlas sepenuhnya. Malam-malamnya masih penuh tangis, tapi perlahan Norma tetap melakukan shalat tanpa sajadah biru itu. Norma merasakan ada yang hilang, tapi juga ada yang tumbuh yaitu keyakinan bahwa sujudnya tak bergantung pada selembar kain, melainkan pada hatinya.
Suatu sore, ketika Norma membantu nenek membersihkan ruang tengah, Norma menemukan sebuah kotak kayu tua terselip di rak bawah. Norma tak sengaja menarik kotak itu saat sedang merapikan obat-obat Nenek yang tergeletak di rak bawah TV.
Perlahan Norma membuka tutupnya dan jantungnya seperti berhenti berdetak.
Di dalamnya, terlipat rapi, sajadah birunya yang hilang.
Norma mendekap sajadah itu erat-erat, air matanya tumpah. “Sajadahku…” gumamnya, gemetar. “Aku… aku menemukannya…”
Norma tak tahu bagaimana kotak itu bisa ada di sana. Tapi di balik rasa syukurnya, ada juga pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.
Malam itu, Norma membawa sajadahnya ke kamar, menatapnya lama. Ia masih tak paham siapa yang meletakkannya di kotak kayu itu. Rasa penasaran bercampur haru, membuat hatinya sesak.
Sampai akhirnya, neneknya masuk ke kamar. Norma langsung menatapnya dengan mata penuh air mata dan pertanyaan yang tak sanggup Norma ucapkan.
Nenek mendekat, duduk di samping Norma. Nenek menarik napas dalam, menatap cucunya dengan mata lembut tapi berat.
“Norma… ada yang ingin Nenek ceritakan,” katanya pelan. “Sajadah itu… Nenek yang menyimpannya.”
Norma tertegun. “Nenek…? Kenapa…? Kenapa Nenek mengambilnya tanpa bilang?” Suaranya gemetar, penuh luka dan kebingungan.
Nenek mengusap pipi Norma, menenangkan. “Maafkan Nenek, Nak. Bukan karena Nenek tak sayang padamu… tapi Nenek khawatir… kau terlalu memuja sajadah itu, seolah tanpanya kau tak bisa sujud. Kau harus tahu… shalatmu tak bergantung pada kain itu. Imanmu ada di hatimu, bukan di alas sujudmu.”
Air mata Norma jatuh makin deras. “Tapi… itu satu-satunya milik Ibu… Aku takut kehilangan benda terakhir milik Ibu yang kupunya”
Nenek memeluk Norma erat. “Nenek paham, Nak. Tapi kau harus belajar… iman bukan hanya tentang benda. Allah selalu ada, mendengar doamu, bahkan tanpa sajadah birumu.”
Norma terisak, memeluk sajadahnya sambil menatap langit-langit kamar. “Aku… aku akan mencoba, Nek… meski berat. Aku… aku masih ingin sajadah ini bersamaku. Tapi aku akan tetap sujud, meski tanpanya.”
Nenek tersenyum tipis, bangga pada cucunya yang perlahan belajar melepaskan.
“Sejak saat itu, Norma menatap sajadah barunya dengan penuh arti. Ia sadar, ‘sajadah terakhir’ bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan hidup dan iman yang lebih besar.”
Norma tahu sekarang bahwa sejatinya, yang terpenting adalah sujudnya sendiri.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.