Puisi

Sebelum Halaman Ini di Tutup

Sebelum halaman ini di tutup

Kita seperti kertas yang dulunya penuh dengan coretan lalu mulai memudar membentuk warna abu-abu, perlahan kertas yang awalnya putih itu berubah menjadi penuh cerita.

Kertas memang dasarnya berwarna putih, namun tanpa sadar kitalah yang membuat coretan demi coretan hingga kertas itu penuh.

Kita sama sama suka menulis di kertas yang memang tidak bisa diraba, namun kita masih bisa melihatnya seolah kembali pada masa itu. Seolah setiap tulisan yang pernah kita buat masih menyimpan suara, tawa, dan perasaan kasih sayang yang dulu pernah ada.

Sayangnya,
sekarang kita mulai sadar
kalau kertas yang kita tulis bersama
tidak akan selamanya
menjadi halaman yang sama.

Sebentar lagi,
kita akan sampai
di bagian yang mungkin paling sulit untuk ditulis—

perpisahan.

Rasanya baru kemarin
kita mulai menulis cerita
di kertas yang sama.

Baru kemarin
kita masih sibuk dengan hal-hal kecil,
tertawa karena sesuatu yang sebenarnya tidak lucu,
saling cerita,
mengeluh tentang tugas,
atau sekadar duduk bersama
tanpa perlu melakukan apa-apa.

Tapi sekarang,
tanpa sadar
waktu sudah membawa kita terlalu jauh.

SMP yang dulu terasa
seperti perjalanan yang panjang,
ternyata akan segera
menjadi bagian dari cerita
yang sudah selesai kita tulis.

Kadang aku masih tidak percaya
kalau sebentar lagi
kita akan memakai seragam yang berbeda,
masuk ke sekolah yang berbeda,
bertemu orang-orang baru,
dan mungkin mulai memiliki cerita
yang tidak lagi bisa kita ceritakan
setiap hari seperti sekarang.

Apa nanti kita masih akan mengingat semua ini?

Apa nanti kita masih akan mengingat
hal-hal kecil yang sekarang terasa biasa?

Tawa yang sekarang terdengar setiap hari,
obrolan yang kadang tidak jelas arahnya,
kejadian-kejadian kecil
yang mungkin sekarang kita anggap sepele,

mungkin suatu hari nanti
justru menjadi hal yang paling kita rindukan.

Karena ternyata,
yang paling sulit dari perpisahan
bukan hanya tentang pergi.

Tapi tentang mengetahui
bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap biasa,
sebentar lagi mungkin
tidak akan menjadi bagian
dari keseharian kita lagi.

Aku tahu setelah ini
kita akan menuju SMA.

Kita akan punya dunia masing-masing.

Kita akan bertemu banyak orang baru,
punya teman baru,
cerita baru,
bahkan mungkin
menjadi versi diri kita
yang berbeda dari sekarang.

Dan mungkin,
tidak semua dari kita
akan tetap sedekat ini.

Mungkin akan ada
yang perlahan jarang berbicara.

Ada yang hanya sesekali bertemu.

Ada yang akhirnya
hanya bisa saling melihat
dari jauh
melalui cerita masing-masing.

Tapi aku harap,
sejauh apa pun kita pergi nanti,
jangan sampai kita lupa
kalau pernah ada satu masa
di mana kita berada di tempat yang sama
dan menulis cerita
di kertas yang sama.

Karena kertas itu mungkin sudah penuh.

Bahkan mungkin
beberapa coretannya
sudah mulai memudar.

Tapi aku tidak ingin menghapusnya.

Aku ingin membiarkan
semua tulisan itu tetap ada,

bukan karena aku tidak ingin maju,
tapi karena aku tahu
setiap coretan itu
pernah menjadi bagian
dari hidup kita.

Sebentar lagi,
kita akan menutup
halaman terakhir
dari cerita SMP ini.

Lalu membuka kertas baru
bernama SMA.

Kita mungkin tidak tahu
akan seperti apa tulisan
di halaman berikutnya.

Mungkin akan indah,
mungkin berantakan,
mungkin penuh dengan hal-hal
yang tidak pernah kita bayangkan.

Tapi sebelum kita benar-benar
menutup kertas ini,
aku cuma ingin bilang—

terima kasih
sudah pernah menulis cerita bersamaku.

Terima kasih untuk semua tawa,
semua cerita,
semua hal kecil
yang mungkin tidak kita sadari
ternyata akan menjadi kenangan.

Dan kalau suatu hari nanti
kita sudah terlalu jauh
untuk kembali ke masa ini,
semoga kita masih bisa tersenyum
ketika mengingatnya.

Karena meskipun cerita ini
sebentar lagi selesai,
aku tidak pernah menganggapnya
sebagai cerita yang sia-sia.

Kertas kita mungkin akan ditutup.

Tapi coretannya
akan tetap tinggal.

Dan mungkin,
suatu hari nanti,
ketika kita membuka kembali
halaman lama ini,
kita akan sadar—

ternyata kita pernah tumbuh bersama
di dalam satu cerita
yang sama.

Tapi sebelum kita benar-benar menutup kertas ini, aku cuma ingin bilang—

terima kasih sudah pernah menulis cerita bersamaku.

Terima kasih untuk semua tawa, semua cerita, semua hal kecil yang mungkin tidak kita sadari ternyata akan menjadi kenangan.

Dan kalau suatu hari nanti kita sudah terlalu jauh untuk kembali ke masa ini, semoga kita masih bisa tersenyum ketika mengingatnya.

Karena meskipun cerita ini sebentar lagi selesai, aku tidak pernah menganggapnya sebagai cerita yang sia-sia.

Kertas kita mungkin akan ditutup.

Tapi coretannya akan tetap tinggal.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita membuka kembali halaman lama ini, kita akan sadar—

ternyata kita pernah tumbuh bersama di dalam satu cerita yang sama.

Diskusi karya

Komentar penulis & pembaca

Semua komentar dan balasan diperiksa kurator sebelum ditampilkan.

0 tampil
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah pembaca pertama yang berdiskusi.